TRENDING NOW

akarta – Dewan Mustasyar PWNU Jawa Tengah, Habib Syeikh bin Abdul Qodir Assegaf menolak namanya dicatut dalam jargon ‘Islam Nusantara’ yang menjadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang.

“Saya tetap dalam pendirian saya tidak berubah. Gambar itu bukan panitia yang buat. Kurang tahu siapa yang buat. Terimakasih sekali masukannya. Jazakallohukhoir,” ujar pimpinan Majelis Sholawat ‘Ahbabul Musthofa’ seperti dikutip dari laman NUGarisLurus.Com, Rabu (15/07).

Foto Habib Syeikh disandingkan dengan jargon "Islam Nusantara".

Sebagaimana diketahui, Habib Syeikh menolak istilah ‘Islam Nusantara’ jika itu dimaksudkan untuk menolak Syariat dan membenci Arab dengan alasan budaya.

Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad dan Islam, dikikis perlahan mulai melalui kampanye anti arab dan mengganggap segala sesuatu yang ada dalam Islam adalah budaya Arab, sehingga perintah dari Allah pun dianggap tradisi Arab. “Ini tradisi Arab, ini Tradisi Nusantara”, begitu dalam prakteknya.

Terakhir, Habib Syeikh mendoakan supaya umat Islam selamat dari perpecahan karena istilah-istilah yang dilontarkan oleh sebagian golongan demi kepentingan politik dan kelompok mereka.

“Semoga Umat Islam selamat tidak di petak-petak dengan kepentingan politik dan golongan dan dari orang-orang Islam yang akan menghancurkan Islam itu sendiri,” tutupnya.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj menyatakan bahwa Islam Nusantara bukan madzhab baru. Islam jenis ini, menurutnya tidak melanggar syara‘ (syariat -red).

“Isalm Nusantara sama sekali bukan madzhab baru, bukan firqah baru, bukan aliran baru,” kata Said dalam acara pembukaan Muktamar ke-33 NU di Jombang, Sabtu malam (01/08).

Menurutnya Islam Nusantara adalah khosois wa mumayyizat. Dia menambahkan bahwa Islam jenis ini menjadi ciri khas islamnya orang-orang Nusantara.

Islam Nusantara, lanjut Said, adalah laku Islam yang melekat dengan budaya Nusantara. “Yang sesuai dengan panduan syara’,” imbuhnya.

Said menambahkan bahwa segala adat istiadat, tradisi dan kearifan yang tidak melanggar batas-batas syara’ diperbolehkan. Menurutnya, hal itu justru harus digunakan untuk dakwah Islam.

Dengan memadukannya dengan tradisi, maka akan lahir Islam yang berperadaban, islam yang santun, dan islam yang mengedepankan akal sehat. Selain juga akan membuat pemeluknya mencintai tanah air Indonesia, secara lahir dan batin.

Said menganggap bahwa Islam Nusantara merupakan warisan para auliya. Terutama warisan dari para wali songo.

Islam Nusantara menjadi tema besar dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang kali ini. Bahkan, wacana Islam Nusantara telah didengungkan jauh-jauh hari sebelum muktamar.



Namun wacana Islam Nusantara yang muncul sebelum muktamar justru memicu kontoversi. Islam jenis ini dianggap banyak pihak akan mengkotak-kotak dan memisahkan Islam Indonesia dengan wilayah lainnya.

 Reporter: Imam Suroso

Editor: Hunef Ibrahim
Islam Nusantara ternyata menimbulkan kebingungan tersendiri bagi kalangan NU di tingkat bawah. Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU Dr Abdul Moqsith Ghazali menyatakan bahwa sebenarnya konsep Islam Nusantara belum selesai.

Dalam sebuah acara bertajuk “Ngaji Islam Nusantara, Membumikan Islam: Nusantara Persembahan ISNU untuk Bangsa dan Negara” yang digelar Ikatan Santru NU (ISNU) di Gedung Dakwah Purwakarta Ahad (06/12), seorang perserta dari Muslimat NU curhat soal Islam Nusantara. Di acara yang dihadiri Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU Dr Abdul Moqsith Ghazali dan Rais Suriyah PBNU Purwakarta KH Abun Bunyamin itu, dia mengaku kebingungan menjawab pertanyaan masyarakat soal gagasan yang diusung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu. Pasalnya, orang-orang menganggap konsep itu bakal menyelisihi agama Islam sendiri.

Menanggapi keluhan itu, Abdul Moqsith Ghazali menyatakan bahwa akidah Islam Nusantara masih sama dengan ormas-ormas Islam yang lain. Dia menyebut bahwa jika Islam Nusantara ingin mengubah Al-Qur’an dengan bahasa Indonesia sebagai fitnah.

Menurutnya, Islam Nusantara adalah Islam yang mengakomodir budaya. Dia menyontohkan bahwa adanya bermacam-macam shalawat merupakan bagian dari budaya. Termasuk juga berjenggot, yang menurutnya soal kepantasan. “Kita ini pendek, jadi tidak pantas pakai jenggot panjang,” ujarnya.

Saat ditemui Kiblat.net seusai acara, Moqsith mengatakan bahwa curhatan peserta tersebut sebagai sesuatu yang wajar. “Islam Nusantara per konsep kan sebenarnya belum selesai, baru dirancang oleh Lembaga Bahtsul Masail,” ujarnya.

 Karenanya, lanjut Moqsith, masih mungkin terjadi keragaman pandangan mengenai Islam Nusantara. Dia juga menilai wajar jika ditingkat bawah ada sebagian yang tidak mengerti.

“Apakah Islam Nusnatara ingin mengubah bacaan shalat yang bebahasa Arab menjadi bahasa Indonesia, kan ternyata tidak,” tukasnya.

“Qurannya masih Quran yang sama, kira-kira begitu,” pungkasnya.



Reporter : Imam S.
Editor: M. Rudy
Deislamisasi adalah program Zionis internasional untuk menghancurkan Islam, baik di dunia maupun di Indonesia. Program deislamisasi pun banyak bentuknya, bahkan tanpa disadari menjadi program Pemerintah Indonesia.

Islam Nusantara dan Program Keluarga Berencana juga dinilai menjadi bagian dari deislamisasi yang digulirkan Zionis Internasional.

Hal itu dikatakan oleh tokoh nasional, Abdullah Hehamahua, mantan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi tahun 2005-2013, dalam Kajian Jumatan Fiqh Sisosial bertema “Deislamisasi, Akankah Berulang? Catatan Seputar Pilkada DKI” di Masjid Al Furqon, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45, Senen Jakarta Pusat, Jumat malam (10/02).

“Salah satu target deislamisasi adalah menjauhkan umat Islam dari aqidahnya. Karena itu digulirkan slogan seperti pluralisme dan ada Islam Nusantara,” ungkapnya, Jumat.

Islam Nusantara berpendapat bahwa siapa pun yang memberi banyak manfaat akan masuk surga. Padahal sebenarnya hanya pemeluk agama Islam lah yang berhak masuk Surga. Pemahaman seperti Ini lah yang menjauhkan umat Islam dari aqidahnya yang terpenting,” lanjutnya.

Sedangkan program pemerintah membatasi populasi dengan menggulirkan program Keluarga Berencana (KB), menurutnya termasuk dari bagian deislamisasi. Karena, dari KB itu ditanamkan pemahaman bahwa memperoleh keturunan mutlak kehendak wanita.

“Tergantung istri lah anak itu bisa hadir, jika tidak mau maka tidak hadir, dengan cara minum obat lah, atau dengan operasi. Padahal Allah lah yang menghendaki hal itu terjadi atau tidak,” ungkapnya.

 Menurutnya, program KB juga untuk melemahkan umat Islam. Saat ini, jelasnya, populasi umat Islam hanya 85% sedangkan saat Indonesia merdeka populasi umat Islam mencapai 99%.

“Sekarang yang 85% saja mereka (musuh) sudah berani menginjak-injak umat Islam, bagaimana nanti ketika 2050, mungkin kita hanya 50% sedangkan setengahnya adalah umat Kristiani atau non Islam lainnya, jangan sampai itu terjadi dan kita diremehkan lagi,.!” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Hunef Ibrahim
Bukan sesuatu yang kebetulan bila istilah ‘Islam Nusantara’ dipropagandakan secara masif oleh Presiden Jokowi dengan melibatkan salah satu ormas berbasis massa. Tak ketinggalan, Kementerian Agama sebagai menteri penanggung jawab urusan agama pun turut serta.

Kontroversi dimulai ketika bacaan Al-Quran menggunakan langgam Jawa hingga advokasi secara intens kelompok-kelompok minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, Baha’i dan lain sebagainya. Ada dugaan ini merupakan skenario besar yang menjadi grand design AS dan barat yang ikut mengintervensi berbagai negara termasuk Indonesia melalui isu-isu HAM dan Pluralitas.

Nampaknya, Islam Nusantara dimunculkan bukan sebagai sebuah rumusan intelektual yang secara jujur, obyektif, dan digali dari akar sejarah Indonesia an sich. Melainkan juga menjadi argumentasi wacana intelektual kering narasi, yang dikembangkan berdasarkan pesanan AS dan barat.

Wacana ini melibatkan pemerintahan Jokowi beserta kabinetnya dan salah satu ormas Islam besar sebagai propagandisnya. Sebuah grand design untuk mengendalikan peta konstelasi politik internasional. Terutama memosisikan Indonesia sebagai negara muslim terbesar bernilai strategis secara politik, geografis, ekonomi, kultur dan sosial.

Presiden Jokowi melontarkan gagasan Islam Nusantara pada saat Istighosah bersama ormas NU di Masjid Istiqlal, Ahad, (14/06).
Presiden Jokowi melontarkan gagasan Islam Nusantara pada saat Istighosah bersama ormas NU di Masjid Istiqlal, Ahad, (14/06).

Sepak terjang Jokowi sebagai RI 1 mulai dari sebelum pilpres, pilpres hingga menjadi presiden, seperti cukup membuktikan keterlibatannya sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan yang banyak memfasilitasi kepentingan Asing dan Aseng. Di antaranya AS, Eropa, China dan Jepang.

Bukan saja untuk agenda politik dan ekonomi yang tercermin dari kebijakan-kebijakannya yang lebih mengokohkan cengkeraman Asing dan Aseng. Melainkan juga agenda-agenda agama untuk memastikan jalan lapang dan aman kepentingan ekonomi politiknya tidak terkendala.

Islam Nusantara adalah sebuah rekayasa sosial kultural untuk membangun paradigma berpikir kaum muslimin di Indonesia agar tidak sensitif terhadap penjajahan Asing dan Aseng melalui para penguasa anteknya. Berkolaborasi dengan para pemimpin ormas Islam yang mau dibayar. Ini menjadi sebuah strategi politik integral dan komprehensif untuk menancapkan kepentingan neoliberalisme dan neoimperialisme di satu sisi.

Kepentingan tersebut menyapu bersih setiap ancaman yang berpotensi menggagalkannya di sisi yang lain. Dengan menggunakan strategi soft power maupun hard power. Soft power dalam bentuk membangun cara berpikir tertentu sehingga lahirlah pemikiran dan perasaan masyarakat yang tidak lagi kritis dan reaktif terhadap kepentingan Asing dan Aseng yang terimplementasi dalam beragam bentuk kebijakan.

Sementara, strategi hard power digunakan dengan cara penegakkan hukum melalui jerat hukum atau pendekatan keamanan menggunakan perundang-undangan. Dengan menggunakan kerangka perundang-undangan yang bersifat pro asing dan menikam rakyat.

Rezim Antek

Terlalu banyak contoh dan dengan penjelasan berulang-ulang untuk bisa menyatakan bahwa rezim Jokowi benar-benar sebagai rezim antek. Meski sebagian kalangan berpendapat sebagai sebuah keniscayaan dalam kaitan hubungan internasional.

Salah satu contoh nyatanya adalah tetap diteruskannya pelaksanaan dari penanda tanganan Indonesia terhadap AFTA (Asian Free Trade Agreement) yang akan diterapkan secara mutlak pada 1 Januari 2016 di tengah ketidak berdayaan politik, ekonomi, budaya dan sosial bangsa dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini.

Sebuah agreement yang meniscayakan Indonesia dengan kekayaan alam dan potensi pasar besar dengan populasi sekitar 250 juta siap menjadi obyek menarik untuk dieksplorasi dan dieksploitasi. Bukti ketidak siapan dan ketidak berdayaan itu diantaranya penyiapan pemenuhan hak sertifikasi profesi sebagai bentuk peningkatan kompetensi warga negara Indonesia di tengah persaingan tenaga kerja asing yang belum optimal.

Di bawah kementerian komunikasi dan informatika saja hanya ada 2 buah lembaga sertifikasi profesi di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang siap memfasilitasi sertifikasi profesi melalui uji kompetensi. Di antaranya LSP Telematika Surabaya. Sementara terdapat jutaan tenaga kerja dari berbagai latar belakang profesi di berbagai kementrian yang belum tersertifikasi profesi. Di tengah implementasi UU Tenaga Kerja yang mengharuskan semua dunia usaha dan dunia kerja harus tersertifikasi profesi.


Dokumen berbahasa Inggris dan sebagian terjemahan bahasa Indonesianya tersebar di jejaring sosial itu jelas menunjukkan bahwa Jokowi telah didukung dengan dana besar-besaran. Dalam penggalan dokumen tersebut antara lain disebutkan sebagai berikut :

Pertama, Amerika Serikat memberikan berbagai program bantuan kepada Indonesia di area-area seperti pendidikan, lingkungan, keadilan terhadap kejahatan dan anti-korupsi, anti terorisme, pendidikan dan pelatihan militer, serta demokrasi dan pemerintahan. Saluran utama bantuan ini adalah Departemen Luar Negeri, Badan Pengembangan Internasional A.S (USAID), Millennium Challenge Corporation (MCC), dan Korps Perdamaian.

Kedua, Sebagai contoh, Indonesia Compact dari MCC adalah program lima tahun senilai $600 juta yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan mengembangkan pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.

Ketiga, Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah A.S. telah mengalihkan dukungan USAID ke berbagai program yang diberikan atau dilakukan secara langsung oleh berbagai organisasi serta badan di Indonesia, yang menyertakan masyarakat sipil serta bisnis setempat.

Keempat, Dalam Anggaran FY2016-nya, Departemen Luar Negeri menyebut Indonesia sebagai kemungkinan negara fokus dalam program Anti Ekstremisme Kekerasan.

Kelima, Indonesia juga disebut secara sama dalam Anggaran FY2015 Luar Negeri. Program pendanaan A.S. spesifik lainnya termasuk Pengendalian Narkotika dan Penegakan Hukum Internasional, Kesehatan Global, Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional, serta Badan Perdagangan dan Pembangunan A.S..

Selain mendokumentasikan kebijakan bantuan AS secara all out terhadap Indonesia, dokumen itu juga menyebut rekomendasi dari Komisi A.S. mengenai Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF), sebuah Komisi yang diciptakan oleh Kongres Amerika ini merupakan badan penasihat pemerintah A.S yang independen dan bipartisan, yang memantau kebebasan beragama di seluruh dunia dan mengajukan berbagai rekomendasi kebijakan ke Presiden, Menteri Luar Negeri, serta Kongres. Rekomendasi terhadap pemerintah AS tersebut antara lain :

· Mendorong Presiden Jokowi dan Menteri Lukman untuk memenuhi komitmen mereka dalam mengintroduksi undang-undang baru yang melindungi kaum agama minoritas, dan menawarkan bantuan teknis bila dibutuhkan;

· Membuat kelompok kerja bilateral spesifik dalam pertemuan Kemitraan Komprehensif dengan Indonesia, untuk membicarakan hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan masalah peraturan hukum, serta menetapkan tindakan konkret untuk menangani semua ini; Mengangkat kebutuhan untuk melindungi tradisi toleransi beragama dan pluralisme Indonesia bersama para pejabat Indonesia, dengan menangkap dan menghukum para individu yang menarget kelompok agama dengan tindakan diskriminasi dan kekerasan;

· Mendesak pemerintah Indonesia di tingkat pusat, provinsi, dan setempat, untuk menaati konstitusi Indonesia dan standar internasional dengan membatalkan Keputusan Kementerian Bersama mengenai komunitas Ahmadiyya dan semua larangan di tingkat provinsi terhadap praktik keagamaan Ahmadiyyah, mengubah atau membatalkan Pasal 156(a) dari Hukum Pidana, serta membebaskan semua yang dihukum atas dasar “penyimpangan,” “merendahkan agama,” atau “penghujatan;” serta mengubah Keputusan Kementerian Bersama No. 1/2006 (Peraturan Pembangunan Rumah Ibadah) agar memberi hak bagi kaum agama minoritas untuk membangun dan memelihara rumah ibadah mereka;

· Memprioritaskan pendanaan bagi program pemerintahan, masyarakat sipil, dan media yang mendukung kebebasan beragama, anti ekstremisme, membangun persekutuan antar kepercayaan, memperluas kemampuan pelaporan bagi para pembela hak asasi manusia, melatih para pejabat pemerintahan dan agama untuk melakukan mediasi perselisihan antar golongan, dan membangun kapasitas bagi advokat reformasi hukum, pejabat yudisial dan parlemen, agar dapat memenuhi kewajiban Indonesia secara lebih baik di bawah hukum hak asasi manusia internasional; dan

· Membantu pelatihan polisi Indonesia dan petugas anti terorisme di semua tingkat, agar dapat lebih baik menangani konflik antar agama, kekerasan serta terorisme yang berkaitan dengan agama, termasuk kekerasan terhadap tempat ibadah, melalui praktik yang konsisten dengan standar hak asasi manusia internasional, dan secara bersamaan memastikan bahwa para petugas tersebut tidak terlibat dalam penyalahgunaan hak asasi manusia di masa lalu berdasarkan prosedur pemeriksaan Amendemen Leahy.

Sokongan pemerintah AS terhadap pemerintahan Jokowi pemimpin negeri mayoritas muslim terbesar dunia tersebut menggelitik sebuah pertanyaan besar tentang kaitan antara propaganda intens Islam Nusantara dengan kepentingan Asing yang berada di belakangnya. Karena tidak mungkin ada gelombang gerakan nasional tertentu jika tidak ada maksud terselubung di baliknya. Saatnya kaum muslimin memiliki kesadaran dan kepekaan tentang masa depan nasib yang dialaminya. Wallahu a’alam bis showab.
Oleh : Adil Nugroho (Pemerhati Sosial Politik)
Peneliti Budaya Jawa, Susiyanto, menilai istilah Islam Nusantara belum jelas secara definisi dan terdapat perbedaan yang jelas dengan dakwah para wali.

“Kalau dari segi definisi, Islam Nusantara itu kan sebenarnya belum jelas definisinya seperti apa,” kata Susiyanto saat dihubungi Kiblat.net, beberapa waktu lalu.

Susiyanto menambahkan bahwa saat ini banyak sekali tafsiran tentang istilah Islam Nusantara sendiri. Penafsiran-penafsiran tersebut masih simpang siur, tergantung pemikiran orang-orang yang berpendapat tentangnya.

Setelah sempat ramai diperbincangkan bersamaan dengan munculnya bacaan Al-Quran langgam jawa di Istana Negara, istilah Islam Nusantara kembali digaungkan dalam pembukaan Munas Alim-Ulama NU di Masjid Istiqlal, Ahad (14/06).

Bahkan dalam kesempatan tersebut Presiden Jokowi juga menyuarakan istilah yang sama dengan menyatakan “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama.”

Dalam kampanyenya, orang-orang yang mengusung istilah Islam Nusantara sendiri selalu mengaitkan dengan sepak terjang Wali Songo dalam mensyiarkan Islam. Semangat dakwah para wali itulah yang kemudian seolah-olah mendorong kemunculan Islam Nusantara.

Menanggapi hal itu Susiyanto menilai bahwa ada perbedaan antara Islam Nusantara dengan dakwah para wali. Menurutnya, pada masanya Wali Songo tidak menginginkan Islam Nusantara sebagai target dakwah mereka.

“Tapi mereka itu sedang melakukan proses pengislaman Nusantara. Jadi, saya melihat ini dua hal yang berbeda,” tandasnya.

 

Reporter : Imam S.

Editor: Fajar Shadiq
Bak kelinci percobaan, umat Islam di Indonesia tampaknya tak pernah selesai diuji dengan wacana-wacana baru. Meskipun ide dasarnya merupakan pengulangan dari wacana yang telah usang, namun ide ini terus dikampanyekan secara massif. Kini, ide itu bernama Islam Nusantara.

Hanya saja kali ini, wacana Islam Nusantara dipikulkan kepada ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup luas di tengah masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan para pejabat terkait urusan agama hingga Presiden turut meramaikannya.

Kiblat.net berupaya mengumpulkan pendapat para tokoh terkait ide Islam Nusantara. Salah satunya adalah aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Berikut petikan wawancara Kiblat.net pada Rabu, (17/06) di bilangan Jakarta.

Akhir-akhir ini kita melihat media-media dan di beberapa kampus mulai sering digelorakan kampanye Islam Nusantara apakah memang ada agenda terselubung atau memang sekadar kebetulan saja?

Jadi ini adalah bagian dari upaya untuk membangun opini terkait dengan upaya-upaya seluruh dunia untuk menjauhi Islam, yang seolah-olah Islam itu digambarkan seperti yang terjadi di Timur tengah. Yaitu dengan membentuk seolah-olah ini (Islam Nusantara, red) adalah sebuah solusi Islam yang tepat, tidak seperti yang ada di Timur tengah.

Kalau di Indonesia namanya sekarang diusulkan Islam Nusantara. seolah-olah ide ini solusi yang terbaik bagi Islam seluruh dunia. Disuruh menyontoh, ini lho Islam nusantara. Dugaan saya mereka inginnya seperti itu. Jadi kalau mau mencontoh Islam yang baik, itu adalah Islam nusantara yang ada di Indonesia, itu secara umum.

Tapi secara khusus, ini kan ada huruf ‘nu’. Itu di pas-paskan. Kan bisa saja Islam Indonesia juga bisa. Kenapa tidak Islam Indonesia? Kenapa Islam Nusantara, karena di situ inisiatornya adalah berasal dari organisasi yang ada huruf ‘nu’, maka dinamakanlah Islam Nusantara.

Lazimnya, kalau tidak mau dikait-kaitkan dengan nama organisasi tentu lebih tepat adalah Islam Indonesia. kan begitu, jadi bukan Islam Nusantara lagi.

Kalau boleh berkelakar, apa usulan Anda?

Kalau saya boleh usul, misalkan saya dimintai pertimbangan lebih bagus nama apa, saya usulkan Islam Indonesia. Itu pun kalau saya setuju. Persoalannya kan saya tidak setuju. Saya tidak setuju pembentukan Islam Nusantara karena prinsip Islam itu adalah Islamlah yang mewarnai Indonesia atau mewarnai nusantara, bukan kebalikannya nusantara yang mewarnai Islam.

Apa perbedaannya?

Berbeda dong. ini seperti spare part mobil. kita kalu butuh spare part Honda ya kita ke Jepang. Kita butuh spare part VW kita ke Jerman. Kita butuh spare part GMC kita ke Amerika, dan seterusnya. Itu adalah model-modelnya. Jadi kita itu memiliki acuan-acuan, sumber-sumber. Yang namanya agama Islam itu lahir di Arab untuk seluruh dunia, rahmatan lil ‘alamin.

Kalau begitu, Islam Nusantara itu tidak bisa rahmatan lil alamin karena orang harus meniru cara Indonesia, seperti orang Indonesia. Mestinya Islam di Indonesia pun cocok untuk Islam yang lain, namanya universal kan.

Dengan demikian ini kan terkesan mengkotak-kotakkan, bahwa Islam itu tidak sama di seluruh dunia. Padahal nilai-nilai Islam dengan perilaku itu berbeda. Misalkan perilaku orang Islam di suatu negara.

Ini perilaku ya, berbeda dengan nilai. Nilai itu harusnya sama. Kita tidak boleh kemudian membohongi diri sendiri, seolah-olah kita itu menyesal telah memiliki agama bernama Islam, kemudian tidak cocok dengan kultur orang Indonesia. Kita tidak boleh seperti itu.

Faktanya adalah Islam terlahir di sana, tetapi untuk seluruh alam, rahmatan lil alamin, untuk semua manusia generasi mana pun. Islam adalah agama terakhir dan sudah ditulis dalam nash sebagai yang paling sempurna, tidak ada yang lebih sempurna dari itu. Itu yang pertama.

Yang kedua, tentu ide ini sangat janggal karena saya lihat pengusung ide Islam Nusantara itu justru dari orang yang memiliki kelompok yang memelihara “tradisi Arab”. yang suka bershalawatan rame-rame.

Itu bukan tradisi Islam Indonesia?

Bukan tradisi kita lah. Yang suka berzikir ramai-ramai, istighosah.. Lho ini mereka meniru gaya-gaya mana coba? Bahasanya, hurufnya, ini kan dari Al-Quran yang lahir di Arab. Kenapa zikirnya istighosahnya atau salawatannya tidak pakai bahasa Jawa? Ini kan berasal dari kelompok yang justru memelihara tradisi atau kebiasaan Arab, kemudian malah mengusulkan Islam yang hanya cocok untuk Indonesia. Tentu ini berbenturan.

Menurut saya ini tidak cocok dan janggal, jangan-jangan usulan ini adalah hanya untuk menggalang opini akan adanya even-even besar yang mereka miliki.

Ada indikasi ke arah situ?

Namanya penggalangan opini. Manajemen isu itu adalah sesuatu yang lazim dalam even-even tertentu yang dimiliki oleh organisasi. misalkan organisasi A mau mengadakan Munas, maka supaya masyarakat ikut terlibat secara emosional dengan Munas itu dibikinlah teaser-teaser, tahapan-tahapan opini, isu-isu supaya masyarakat ikut terlibat di dalam keinginan, visi misi tertentu. Nah tentu ini adalah sebagai bagian opini manajemen isu.

Jadi karena ini bertolak belakang dengan kultur lingkungan mereka, golongan mereka yang sesungguhnya memelihara tradisi-tradisi Arabic, ini tentu tidak pas, tidak klop. Mestinya yang mengusung Islam Nusantara itu adalah kelompok yang minim sekali mereka memelihara tradisi-tradisi kearaban.

Ada yang mengatakan konsep Islam Nusantara ini untuk melawan Arabisasi yang seolah-olah digembar-gemborkan sebagai ideologi transnasional?

Untuk level besarnya begini, nanti ide Islam Nusantara ini akan berbahaya misalkan nanti ada Islam Nusantara, ada Islam Malaysia, ada Islam Brunei, itu yang besar, makronya.

Yang lebih rumit lagi, ada Islam Medan, Islam Surabaya, Islam Jogja, Islam Kediri, Islam Madura. Lebih kecil lagi ada Islam Kecamatan A, kecamatan B. Lho ini kan ngeri paham yang seperti ini. Padahal Islam itu ya satu. Ini adalah prinsip. Islam itu satu.

Nah yang memungkinkan adalah mengIslamkan orang Jawa, mengIslamkan orang Medan, mengIslamkan orang Malaysia. Bukan sebaliknya memadurakan Islam, menjawakan Islam, memedankan Islam. Islam itu tidak bisa diubah. Islam itu sudah sangat sempurna, tidak mungkin dia diubah, dimodifikasi tidak mungkin.

Tapi soal perilaku beda lagi. Nilai-nilai Islam itu sama persis, tidak bisa diubah dan itu cocok dengan semua orang jika semua orang mengerti. Tapi persoalannya kan tidak semua orang paham. Nah, sekarang rahmatan lil alamin kadang-kadang disesatkan artinya.

Beberapa lembaga, misalkan saya lihat sekarang, BNPT misalkan atau pejabat-pejabat itu mengartikan rahmatan lilalaamin dalam perspektif yang sempit. Seolah-olah rahmatan lil alamin karena cocok untuk semua negara, kemudian setiap negara itu boleh memodifikasi Islam itu sendiri. Karena cocok kemudian boleh memodifikasi sendiri.

Ini seolah-olah Islam Indonesia itu ya seperti ini. Kalau pengajian pakai jilbab, kalau tidak pengajian perempuannya tidak usah pakai jilbab. Kemudian berbuat baik itu selama Ramadhan saja, kemudian situasi nuansa keIslaman itu kalau bulan-bulan yang suci saja atau hari-hari yang berkaitan dengan perayaan Islam saja, selain itu tidak perlu. Kita kembali ke budaya masing-masing.

Padahal, Islam datang itu kan untuk memperbaiki budaya seluruh dunia, bukan sebaliknya. jadi ketika Arab rusak, begitu ada Islam jadi baik. Indonesia mestinya sama, Indonesia rusak ada Islam jadi baik. Jangan dipelintir-pelintir dong, seolah-olah Islam tidak cocok. Indonesia jadi rusak karena Islam. Tidak begitu, ini manusianya.

Banyak sekali kadang dia beragama tapi tidak paham kitab sucinya, sehingga nilai yang diangkat adalah bukan nilai agama itu tapi nilai budaya yang dicampur dengan agamanya, lalu disebut abangan. Itu yang terjadi


Bak kelinci percobaan, umat Islam di Indonesia tampaknya tak pernah selesai diuji dengan wacana-wacana baru. Meskipun ide dasarnya merupakan pengulangan dari wacana yang telah usang, namun ide ini terus dikampanyekan secara massif. Kini, ide itu bernama Islam Nusantara.

Hanya saja kali ini, wacana Islam Nusantara dipikulkan kepada ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup luas di tengah masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan para pejabat terkait urusan agama hingga Presiden turut meramaikannya.

Kiblat.net berupaya mengumpulkan pendapat para tokoh terkait ide Islam Nusantara. Salah satunya adalah aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Berikut petikan wawancara Kiblat.net pada Rabu, (17/06) di bilangan Jakarta. Simak wawancara sebelumnya..

Ada beberapa kelompok yang sepertinya menjadi penumpang gelap dalam isu ini karena ada arahan Islam Nusantara ini ya Islam yang bukan Arab. Apa tanggapan Anda?

Ya memang Islam itu bukan Arab, maksudnya Islam itu bukan orang Arab. Makanya saya bilang Islam itu satu, ya Islam. orang Arab itu perilaku, berbeda. Tapi lahirnya Islam itu ada di Arab. Jadi Islam itu bukan Islam Arab, bukan Islam Indonesia. Orang Arab yang non-muslim juga banyak. Jadi kalau ada yang bilang Islam Arab salah besar, Islam itu ya Islam.

Tapi perkara orang Arab berperilaku tidak Islam, karena ini perilaku, dan nilai-nilai Islam itu untuk seluruh dunia, tidak mungkin kemudian kita bilang IslamArab-Islam nonArab, tidak ada. Islam itu ya Islam.

Nah kemudian, kenapa orang liberal dan lain sebagainya ini seolah-olah menumpang, itu karena mereka ingin mencari solusi agar kepentingan semua agama itu tidak berbenturan. Maka dibuatkan sebuah tag line seolah-olah semua agama itu sama, jadi semua agama itu benar. Itu kan yang mau mereka bangun sehingga orang tidak berkelahi karena adanya agama-agama.

Yang tidak mereka ketahui adalah agama itu hanya satu dan itu yang terakhir dan pasti paling sempurna. Bagaikan pabrik mobil, pabrik yang paling baik itu pasti produksi terakhir yang paling baik karena dia paling sempurna belajar dari kesalahan produksi sebelumnya. Ini sama dengan agama juga, Islam adalah terakhir, nabinya terakhir dan tidak ada yang berdiri setelah itu, tidak ada nabi setelahnya. Laa nabiyya ba’dah. Jadi setelah itu tidak ada lagi. Tidak ada agama baru, agama Islam terakhir nabinya terakhir, semua harus taat pada agama ini.

Karena tidak taat, tidak mengerti tentang agama ini maka dia mencoba untuk membangun kembali seolah-olah agama yang lampau, agama yang sudah diubah-ubah olah manusia itu seolah-olah agama yang masih benar. Padahal agama istilah ahli kitab dan sebagainya sudah tidak ada lagi. Agama nasrani, kristen katolik, konghucu ini adalah agama bikinan manusia, berdasarkan pernah ada kitab suci yang dia pegang tapi dia ubah-ubah sesuai zaman.

Maka tidak ada kitab suci yang lebih sempurna dari Al-Quran, yang bisa menjawab semua tantangan kecuali Al-Quran. Kalau anda mempelajari Al-Quran, tidak akan anda temui kedetailan Al-Quran itu dibanding kitab suci yang lain. Karena memang Al-Quran jadi kitab yang terakhir.

Kaum liberal ini mungkin saja diuntungkan dengan ide ini, tapi dalam prisip Islam ini tentu tidak benar. Karena mereka, saya yakin tidak memahami Al-Quran apa yang dimaksud dengan firman Allah SWT bahwa Islam sempurna, dan tidak ada yang lebih dari Islam dan tidak ada agama setelahnya, tidak ada nabi setelah muhammad, tidak da lagi yang lebih sempurna dari muhammad akhirnya kita harus percaya dan yakin bahwa satu-satunya agama yang benar adalah Islam.

Dahulu pernah ada istilah serupa dengan Islam Nusantara, yaitu Aktualisasi Al-Quran, bagaimana prediksi anda bisakah ide Islam Nusantara ini diterima oleh masyarakat?

Jadi ide itu boleh banyak, orang boleh membuat ide-ide baru. Tapi saya yakin tidak akan bertahan lama. Setiap zaman itu pasti ada orang yang memiliki ide-ide miring. Ide yang tidak sama. Seolah-olah unik, mereka pasti akan merasa seolah-olah ini ide baru. Tapi tidak akan pernah awet dan tidak akan pernah diterima masyarakat karena akhirnya masyarakat akan belajar dari kesalahan.

Misalkan kelompoknya Ulil mau berusaha kenapa kelompoknya itu-itu saja. Tidak berubah dan orangnya itu-itu saja. Masyarakat biasanya akan menolak setelah sadar.

Dan generasi antar generasi itu semuanya tidak mungkin akan mengikuti jalan yang sama. Misalnya begini, sekarang mungkin orang dalam satu keluarga anaknya tergoda dengan ide liberalisme, tapi nanti saat keluarga itu semuanya tentu tidak akan mengikuti dia. Dia akan belajar dari kesalahan-kesalahan saudaranya, akan seperti itu.

Begitu juga dengan kelompok-kelompok, mungkin ada kelompok yang mendukung liberalisme agama dan ormas tertentu yang seolah-olah mendukung ide-ide liberalisme agama. Tapi suatu saat generasi berikutnya dia akan memperbaiki. Secara organisasi ya, saya yakin (ide Islam Nusantara, red) ini pendapat pribadi, yang karena pribadi itu memiliki jabatan penting di situ, seolah-olah pendapat organisasi. Saya pikir tidak.

Menurut Anda ini pendapat pribadi yang dianggap sebagai pandangan organisasi?

Jadi bedakan antara pendapat pribadi dalam organisasi sebesar itu, dengan pendapat organisasi. Pendapat organisasi itu ditentukan oleh pleno, diputuskan dalam muktamar misalnya.

Ini hanya pendapat pribadi, kalau dalam organisasi misalnya Muhammadiyah, jarang sekali ada pendapat-pendapat yang kemudian rancu. Ini kan rancu sekali antara pendapat pribadi seorang ketua umum dengan lembaga yang dipimpinnya. Kalau sampai pendapat organisasi, korporasi, organisasi tertentu, tentu ini fatal. Karena masa sih pengurus yang segitu banyak mengelola organisasi Islam sebesar itu terjadi kesalahan kolektif. Tidak mungkin.

Saya pikir ini pendapat pribadi seseorang yang secara sadar memanfaatkan saja. Bukan menunggangi ya, tapi tadi dalam rangka penggalangan opini untuk tujuan-tujuan tertentu jangka pendek.  Anda tahulah untuk kepentingan apa. Mereka memiliki kegiatan terbesar apa dalam tahun ini, kita akan tahu lah. Jadi penggalangan opini untuk teasure pemanasan, nanti hilang juga itu. Tidak mungkin akan berlangsung lama, tidak akan permanen.

Artinya kita tidak perlu terlalu reaktif menanggapi wacana ini?

Tidak perlu, anggap saja itu angin lalu. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tidak perlu dianggap serius-serius karena biasanya dari kelompok-kelompok itu pula yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang nyeleneh. Jadi ini dedengkotnya sudah tidak ada, sudah meninggal, tapi muridnya masih banyak.

Saya tidak perlu menyebut namanya. Ada yang jadi menteri ngomongnya juga ikut nyeleneh, ada yang jadi pengurus organisasi tertentu ngomongnya nyeleneh. Inilah murid-murid bekas dedengkot-dedengkot yang sudah meninggal pada waktu sebelumnya, tapi muridnya ini belum bisa move on. Jadi mereka masih ikut sesat-sesat sedikit, tapi suatu saat generasi berikutnya akan memperbaiki, itu yang akan terjadi.

Sejak dulu ada tokoh yang nyeleneh kemudian mati, muncul generasi berikutnya memperbaiki. Akan begitu terus. Dan inilah ibrohnya, kita bisa mengambil pelajaran. Kalau tidak ada begitu kita tidak akan mengerti.

Jadi Islam Nusantara ini muncul supaya kita tahu seperti apa Islam yang benar.